DPRD Jatim Usulkan Transjatim Mojokerto–Jombang, Sasar Wisata hingga Kawasan Pesantren
Surabaya - Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Hidayat mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengembangkan layanan Transjatim ke rute Mojokerto–Jombang.
Usulan tersebut didasarkan pada potensi wisata, kawasan sejarah Majapahit, pusat wisata religi, serta aktivitas pendidikan pesantren yang dinilai membutuhkan dukungan transportasi publik.
Dorongan itu disampaikan setelah peresmian operasional Transjatim Koridor II Malang Raya yang menghubungkan wilayah Kota Malang dan Kabupaten Malang pada Jumat, 30 Oktober 2026.
“Pengembangan jalur Trans Jatim ke wilayah Mojokerto dan Jombang sangat krusial dan mendesak. Wilayah ini memiliki potensi ekonomi, pariwisata, dan keagamaan yang sangat besar namun membutuhkan dukungan aksesibilitas publik yang padu,” ujar Hidayat saat dikonfirmasi, Senin, 2 November 2026.
Menurut Hidayat, perluasan jaringan transportasi publik perlu diarahkan ke kawasan yang memiliki aktivitas masyarakat dan potensi ekonomi tinggi. Mojokerto dan Jombang dinilai memiliki sejumlah tujuan wisata serta pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan.
Wisata Sejarah hingga Religi Jadi Pertimbangan
Hidayat menyebut kawasan Mojokerto–Jombang memiliki beragam destinasi yang berpotensi didukung konektivitas transportasi publik.
Di Jombang, terdapat kawasan wisata alam Wonosalam. Sementara itu, Mojokerto memiliki situs sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di kawasan Trowulan.
Selain wisata alam dan sejarah, Jombang juga dikenal sebagai tujuan wisata religi. Sejumlah tokoh penting, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menjadi bagian dari daya tarik ziarah di wilayah tersebut.
Menurut Hidayat, aktivitas ziarah turut mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah. Konektivitas transportasi publik dinilai dapat membantu memudahkan perjalanan masyarakat menuju kawasan tersebut.
Mobilitas Santri dan Wali Santri Jadi Perhatian
Selain sektor pariwisata, Hidayat menyoroti keberadaan pesantren di Jombang. Kawasan tersebut memiliki sejumlah pondok pesantren besar yang menjadi tujuan pendidikan keagamaan.
Aktivitas pendidikan pesantren turut membentuk kebutuhan mobilitas masyarakat. Mulai dari santri, wali santri, hingga masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan pesantren.
“Juga kawasan pendidikan pesantren. Keberadaan puluhan Pondok Pesantren (Ponpes) besar di Jombang menciptakan mobilitas santri, wali santri, dan masyarakat yang sangat tinggi setiap harinya,” jelasnya.
Hidayat meyakini pengembangan Transjatim pada rute Mojokerto–Jombang nantinya dapat mempermudah mobilitas masyarakat lokal maupun wisatawan.
Ia juga berharap konektivitas tersebut dapat mendukung aktivitas ekonomi daerah, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pariwisata.
DPRD Jatim Siap Dukung Pengembangan Rute
Hidayat menyatakan DPRD Jawa Timur siap mendukung pengembangan layanan Transjatim ke wilayah Mojokerto–Jombang melalui dukungan penganggaran dan kebijakan.
Dukungan tersebut diharapkan dapat mendorong usulan perluasan rute menjadi bagian dari pengembangan transportasi publik di Jawa Timur.
Meski demikian, pengembangan rute Mojokerto–Jombang masih berupa usulan yang disampaikan Hidayat. Realisasinya tetap membutuhkan pembahasan lebih lanjut bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Dinas Perhubungan.
“Kami di DPRD Jatim siap mendukung penuh penganggaran dan kebijakan agar perpanjangan serta perluasan rute Trans Jatim ini bisa segera terealisasi demi kemudahan mobilitas warga Jawa Timur,” pungkas legislator dari daerah pemilihan Mojokerto–Jombang tersebut. (*)
Komentar