SAPAJATIM
NEWS

Cegah Perundungan Sejak SD, Sekolah dan Orang Tua Diminta Dampingi Perkembangan Sosial Anak

sapajatim · 02 November 2026 19:55 WIB
Cegah Perundungan Sejak SD, Sekolah dan Orang Tua Diminta Dampingi Perkembangan Sosial Anak
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berfoto bersama para siswa di lingkungan sekolah. Pemkot Surabaya melalui Dispendik memperkuat pencegahan perundungan sejak jenjang SD dengan mendorong pendidikan karakter serta pendampingan bersama antara guru dan orang tua. (Dok. Pemkot Surabaya)

Surabaya - Dinas Pendidikan Kota Surabaya menekankan pentingnya pendampingan anak sejak jenjang sekolah dasar (SD) untuk memperkuat pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. 

Guru dan orang tua diminta bersama-sama membiasakan anak menghormati perbedaan, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan pencegahan perundungan perlu dibangun melalui pembiasaan perilaku positif dalam keseharian anak di sekolah. Salah satunya dilakukan melalui penguatan pendidikan karakter dalam program Sekolahe Arek Suroboyo.

“Anak-anak tidak cukup hanya diberi pemahaman tentang pendidikan karakter, tetapi juga perlu dibiasakan menerapkannya. Mereka harus belajar menghormati perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang baik. Dengan begitu, anak memahami bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat,” jelas Febri, Senin, 2 November 2026.

Anak SD Masih Belajar Memahami Lingkungan Sosial

Menurut Febri, anak usia SD masih berada dalam tahap perkembangan sosial dan emosional. Pada usia tersebut, mereka membutuhkan arahan untuk memahami batasan perilaku, membangun pertemanan yang sehat, serta menyikapi perbedaan dengan teman sebaya.

Karena itu, pembiasaan perilaku positif perlu berjalan secara konsisten. Anak tidak hanya mendapatkan pemahaman melalui materi pendidikan karakter, tetapi juga melalui contoh dan interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah maupun keluarga.

“Anak usia SD memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sedang belajar memahami lingkungan sosialnya. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan yang konsisten, baik dari guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Keduanya harus berjalan bersama agar anak mendapatkan pemahaman dan contoh perilaku yang baik,” ujar Febri.

Perubahan Perilaku Anak Perlu Dikomunikasikan

Dispendik Surabaya juga meminta sekolah dan orang tua membangun komunikasi secara berkelanjutan untuk memantau perkembangan anak. Pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan guru karena orang tua juga dapat menyampaikan perubahan perilaku anak ketika berada di rumah.

Febri mengingatkan komunikasi antara guru dan wali murid tidak perlu menunggu pembagian rapor. Jika menemukan perubahan perilaku, guru kelas maupun guru Bimbingan Konseling (BK) dapat segera menghubungi orang tua.

“Kalau ada perubahan perilaku anak, jangan menunggu sampai pembagian rapor. Guru kelas maupun guru BK bisa segera berkomunikasi dengan orang tua untuk membicarakan kondisi anak. Bisa melalui telepon, pesan singkat, atau bertemu langsung. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa lebih cepat memahami situasi dan menentukan langkah pendampingan yang tepat,” katanya.

Dalam upaya tersebut, Dispendik mengoptimalkan peran 3.856 guru kelas dan 283 guru BK untuk mendampingi perkembangan peserta didik di lingkungan sekolah.

Guru dapat mengamati interaksi dan perilaku anak selama berada di sekolah, sedangkan orang tua memberikan informasi mengenai perkembangan anak di rumah. Pertukaran informasi tersebut diharapkan membantu kedua pihak mengenali kebutuhan anak dan menentukan pendampingan yang sesuai.

Melalui pendampingan yang konsisten, Dispendik berharap anak mendapatkan pemahaman dan contoh perilaku positif, baik ketika berinteraksi dengan teman sebaya maupun dengan lingkungan sekitarnya. (*)

Pewarta: Shafi Syuhada
Editor: sapajatim

Tags

Komentar

Belum ada komentar.

Terkait

Terpopuler - NEWS