SAPAJATIM
LIFESTYLE

Tak Hanya Angkat Pertempuran, Suroboyo Wani Tampilkan Peran Laskar Putri dan Dapur Umum

sapajatim · 02 November 2026 18:40 WIB
Tak Hanya Angkat Pertempuran, Suroboyo Wani Tampilkan Peran Laskar Putri dan Dapur Umum
Pertunjukan Suroboyo Wani di Tugu Pahlawan Surabaya menampilkan Laskar Putri dan ibu-ibu Dapur Umum dalam teatrikal perjuangan arek-arek Suroboyo. (Foto: Dok Pemkot Surabaya)

Surabaya - Pertunjukan kolosal Suroboyo Wani di kawasan Tugu Pahlawan tidak hanya menampilkan kisah pertempuran arek-arek Suroboyo melawan Sekutu. Teatrikal tersebut juga menghadirkan Laskar Putri dan ibu-ibu Dapur Umum dalam gambaran perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pertunjukan yang digelar Minggu, 1 November 2026, menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Pahlawan di Kota Surabaya. Acara yang memadukan seni peran dan musik tersebut disebut menyedot perhatian sekitar 170.000 penonton.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengajak masyarakat meneruskan semangat kepahlawanan melalui kepedulian terhadap persoalan sosial. Ia menilai perjuangan masa kini harus diwujudkan dengan mengatasi kemiskinan dan anak putus sekolah.

“Selagi ada kemiskinan, selagi masih ada anak putus sekolah, maka kita belum merdeka. Dibutuhkan kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya,” tegas Eri.

Laskar Putri dan Dapur Umum Hadir dalam Teatrikal

Salah satu adegan Suroboyo Wani memperlihatkan sosok Kolonel Sungkono menghampiri Ibu Pertiwi yang dikelilingi Laskar Putri dan ibu-ibu Dapur Umum.

Kolonel Sungkono kemudian digambarkan bersimpuh untuk memohon doa restu sebelum para pejuang melanjutkan perjuangan.

Adegan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan yang menggambarkan perjuangan melalui berbagai peran. Tidak hanya tokoh yang digambarkan berada di medan pertempuran, tetapi juga perempuan yang ditampilkan melalui kelompok Laskar Putri dan Dapur Umum.

Pertunjukan dibuka dengan adegan permainan bola oleh tokoh Soegiharto yang diperankan aktor asal Surabaya, Juang, bersama kawan-kawannya.

Suasana berubah mencekam ketika sirene berbunyi, menandai kedatangan utusan pemuda yang membawa kabar ultimatum Sekutu. Musik pengiring kemudian berganti menjadi genderang perjuangan.

Para pemain secara simbolis berganti atribut menjadi pejuang bersenjata bambu runcing. Mereka kemudian membentuk barisan Laskar Rakyat Kapasan.

Cerita berlanjut dengan seruan pertempuran yang digambarkan melalui sosok Kolonel Sungkono. Soegiharto kemudian menukar sepatunya dengan senjata dan bergabung bersama laskar menuju markas Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Parade Juang Tandai Pembukaan Rangkaian Hari Pahlawan

Selain pertunjukan teatrikal, pembukaan rangkaian Hari Pahlawan juga diisi dengan prosesi kebangsaan. Eri Cahyadi memimpin lantunan lagu Indonesia Raya di hadapan masyarakat yang hadir.

Prosesi dilanjutkan dengan penyerahan bendera Merah Putih dari perwakilan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) kepada Eri yang memerankan Kolonel Sungkono.

Bendera tersebut kemudian diserahkan kepada Paskibraka Surabaya sebagai tanda pemberangkatan Parade Juang 2026.

Dalam sambutannya, Eri mengingatkan kembali perjuangan arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 November 1945. Ia menyebut keberanian masyarakat Surabaya dalam menghadapi Sekutu sebagai semangat yang perlu terus dijaga.

“Merdeka! Arek-arek Suroboyo, hari ini kita memperingati tanggal 10 November. Bagaimana arek-arek Suroboyo memukul mundur Sekutu dan menewaskan Mallaby. Maka perjuangan arek-arek Suroboyo jangan pernah kita lupakan,” ujar Eri.

Eri Ajak Warga Jadi Pahlawan Masa Kini

Eri mengatakan tantangan perjuangan saat ini berbeda dengan masa kemerdekaan. Menurutnya, masyarakat perlu bersatu untuk menghadapi kemiskinan, persoalan pendidikan, dan menjaga lingkungan.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah kota, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para pemangku kepentingan mengutamakan kebersamaan.

Eri juga menjelaskan tema Suroboyo Wani mengandung ajakan agar masyarakat berani mengambil peran sebagai pahlawan di masa kini. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, kemanusiaan, dan kehidupan sosial.

“Surabaya warganya luar biasa. Harapan kita, bagaimana semua bisa jadi pahlawan. Dikarenakan kita arek Suroboyo, dilahirkan punya jiwa pahlawan. Jadi masyarakat, ayo kita bersama menjadi pahlawan untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan anak putus sekolah, dan menjaga lingkungan,” ungkapnya.

Ia berharap nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Eri mengajak masyarakat bersama-sama membangun Surabaya yang lebih sejahtera.

“Maka saya berharap kemerdekaan itu tidak hanya menjadi slogan, tapi kita bertempur bersama hari ini, menjadi pahlawan bersama untuk Surabaya lebih sejahtera,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Shafi Syuhada
Editor: sapajatim

Tags

Komentar

Belum ada komentar.

Terkait

Terpopuler - LIFESTYLE