SAPAJATIM
NEWS

Batik Sudah Diakui UNESCO, Emil Dardak: Tanggung Jawab Kita Menjaga dan Mewariskannya

sapajatim · 05 Oktober 2026 01:03 WIB
Batik Sudah Diakui UNESCO, Emil Dardak: Tanggung Jawab Kita Menjaga dan Mewariskannya
Puncak peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 bertema “Batik Berlayar” yang digelar Yayasan Batik Indonesia (YBI) di Monumen Kapal Selam (Dok.Wahyu - JNR/Kominfo Jatim)
Surabaya, sapajatim – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pengakuan UNESCO terhadap batik bukanlah titik akhir pelestarian budaya. 

Status tersebut justru membawa tanggung jawab untuk terus mempraktikkan, mempelajari, mengembangkan, dan mewariskan batik kepada generasi berikutnya.

Pesan itu disampaikan Emil saat menghadiri puncak peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 bertema “Batik Berlayar” di Monumen Kapal Selam (Monkasel), Surabaya, Jumat 2 Oktober 2026, malam.

Dalam sambutan mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Emil mengingatkan batik telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk Kemanusiaan sejak 2009.

“Pengakuan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus juga menjadi tanggung jawab kita semua. Karena warisan budaya tidak cukup hanya dikenal dan juga diakui, namun warisan budaya juga harus tetap dipraktikkan, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Emil.

Pengakuan UNESCO Bukan Titik Akhir

Menurut Emil, pengakuan sebagai warisan budaya tidak cukup jika batik hanya dijaga sebagai simbol. Batik harus tetap hadir dan digunakan dalam kehidupan masyarakat agar terus berkembang lintas generasi.

Semangat tersebut terlihat dalam konsep “Batik Berlayar” yang membawa batik ke ruang publik melalui rangkaian kegiatan di kawasan Sungai Kalimas hingga Monkasel.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia (YBI) Gita Gilang Kencana mengatakan batik tidak harus selalu ditempatkan dalam ruang formal. 

Kehadirannya di berbagai ruang dinilai penting agar masyarakat semakin dekat dengan batik dalam kehidupan sehari-hari.

“Batik adalah budaya yang hidup. Batik tidak harus berada di tempat yang formal, namun bisa hadir di ruang publik manapun sehingga semakin banyak orang yang merasa bahwa batik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Gita.

Konsep itu diwujudkan melalui Batik Berlayar yang membawa batik ke ruang publik dengan menggunakan perahu di Sungai Kalimas.

Batik Daerah Ikut Didorong Berkembang

HBN 2026 juga mengangkat batik Tulungagung sebagai salah satu inspirasi. Batik dari daerah tersebut diposisikan sebagai bagian dari kekayaan batik Indonesia yang perlu terus dikenalkan dan dikembangkan.

Ketua Bidang Usaha Baru Dekranas Metty Herindra mengatakan batik perlu terus berlayar melintasi zaman. 

Pengembangannya dapat dilakukan melalui kreativitas dan inovasi dengan tetap mempertahankan akar budaya, makna, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan peluang ekonomi bagi para perajin. Batik diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus membuka kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan pelakunya.

Emil Ingin Batik Tetap Menjadi Kebanggaan

Bagi Emil, keberlanjutan batik tidak cukup diukur dari pengakuan yang telah diperoleh. Yang lebih penting adalah bagaimana budaya tersebut tetap hidup dan diterima oleh generasi berikutnya.

“Semoga ‘Batik Berlayar’ ini resonansi serta gaungnya akan terasa sampai waktu yang sangat panjang dan ke khalayak yang lebih luas. Dan batik akan terus menjadi kebanggaan bangsa dan negara Indonesia,” kata Emil.

Puncak HBN 2026 di Monkasel juga diisi Tari Remo, Reog Ponorogo, pemukulan pungkalasa, hingga penampilan Dewa 19.

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi batik. Bukan hanya sebagai warisan budaya yang telah diakui UNESCO, tetapi sebagai budaya yang terus dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan. (*)

Pewarta: Firman Dwi Ardiansyah
Editor: sapajatim

Tags

Komentar

Belum ada komentar.

Terkait

Terpopuler - NEWS