Dari Greenhouse Jadi Wisata, BUMDes Sidorejo Kembangkan Melon Premium
Sidoarjo, sapajatim - Puluhan melon bergelantungan di antara tanaman yang tumbuh di dalam greenhouse Desa Sidorejo, Kecamatan Krian, Sidoarjo. Pengunjung bisa melihat langsung buah yang masih berada di tanaman, memilihnya, mencicipi, lalu memetiknya sendiri.
Pemandangan itu menjadi bagian dari konsep Wisata Petik Melon Premium yang dikembangkan BUMDes Mitra Usaha Desa Sidorejo. Kebun tersebut tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga menjadi ruang wisata yang mempertemukan pertanian dengan pengalaman pengunjung.
Greenhouse itu memiliki luas sekitar 550 meter persegi dengan sekitar 1.400 tanaman melon.
Ketua BUMDes Mitra Usaha Desa Sidorejo, Abdul Muid atau akrab disapa Muid, mengatakan pengelola rata-rata mempertahankan satu buah pada setiap tanaman untuk menjaga kualitas melon yang diarahkan ke pasar premium.
“Jadi ini adalah greenhouse untuk budidaya melon jenis premium. Memang pasarnya kita buat yang premium tertentu,” kata Muid.
Dari Budidaya ke Wisata Petik
Awalnya, greenhouse tersebut dikembangkan untuk menghasilkan melon yang bisa menyasar pasar seperti supermarket dan pasar modern.
Namun, pengelola kemudian melihat ada nilai lain yang bisa dikembangkan.
Melon tidak hanya dijual sebagai buah. Pengunjung juga diajak melihat proses budidayanya dan memetik langsung hasil panen.
Menurut Muid, konsep tersebut mendapat respons dari masyarakat. Promosi melalui media sosial kemudian membuat pengunjung datang dari luar Sidoarjo.
Ia menyebut sejumlah pengunjung berasal dari Malang, Madura, Tuban dan Mojokerto.
Bagi pengelola, wisata petik memberi pengalaman berbeda dibandingkan membeli melon di pasar. Pengunjung dapat melihat tanaman, memilih buah dan mencicipinya langsung sebelum menentukan melon yang akan dibawa pulang.
1.400 Tanaman di Greenhouse 550 Meter Persegi
Pemilihan melon sebagai komoditas tidak dilakukan begitu saja.
Muid mengatakan BUMDes sempat mempertimbangkan sejumlah tanaman lain, termasuk pisang cavendish. Setelah dilakukan perhitungan kembali dengan melihat kondisi lahan dan peluang usaha, pengelola akhirnya memilih melon.
Di greenhouse tersebut dikembangkan tiga varietas, yakni Sweet Hami, Sweet Net 9 dan Sweet Lavender. Ketiga varietas tersebut juga disebut dalam informasi resmi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Muid menjelaskan masing-masing melon memiliki karakter berbeda.
Sweet Lavender memiliki kulit kuning dengan tekstur daging yang renyah. Sementara Sweet Net 9 memiliki kulit putih, daging berwarna oranye dan tekstur lebih lunak.
Harga melon yang dipasarkan di lokasi tersebut ditetapkan Rp30.000 per kilogram, menurut Muid.
Dengan sekitar 1.400 tanaman, pengelola rata-rata mengambil satu buah dari setiap tanaman untuk produksi premium. Ada tanaman yang menghasilkan lebih dari satu buah, tetapi menurut Muid jumlahnya tidak banyak.
Sekitar 70 Hari dari Tanam hingga Panen
Melon juga dipilih karena memiliki siklus budidaya yang relatif cepat.
Muid mengatakan masa tanam hingga panen sekitar 70 hari. Setelah panen selesai, lahan kembali dipersiapkan untuk siklus berikutnya.
“Setelah kita panen hari ini, kita langsung menyiapkan lahannya lagi untuk segera tanam lagi. Dua bulan lagi kita panen lagi,” ujarnya.
Menurut Muid, siklus penanaman tersebut membuat greenhouse dapat digunakan beberapa kali dalam setahun. Penanaman dimulai sekitar Februari, kemudian panen berlangsung pada April, Juli dan Oktober.
Greenhouse Bukan Berarti Bebas Masalah
Budidaya dengan greenhouse memang membantu pengelola menjaga proses produksi ketika kondisi cuaca berubah. Namun, tanaman tetap menghadapi persoalan lain.
Saat musim hujan, misalnya, pengelola harus mengantisipasi munculnya penyakit jamur. Sedangkan pada musim kemarau, ada risiko layu fusarium pada sebagian tanaman.
Karena itu, kualitas air nutrisi menjadi salah satu hal yang terus dipantau.
Muid mengatakan pengecekan dilakukan secara berkala, termasuk terhadap pH air dan kandungan nutrisi.
“Air nutrisinya tiap kali ada waktu tertentu secara periodik kita cek kualitas nutrisinya, pH airnya dan juga kualitas nutrisinya ini,” katanya.
Pengelolaan tersebut menjadi bagian penting karena kualitas melon premium tidak hanya ditentukan oleh varietas, tetapi juga proses budidayanya.
Ketika Melon Dijual Bersama Pengalamannya
Di sinilah konsep wisata petik menjadi bagian dari strategi BUMDes.
Harga Rp30.000 per kilogram tidak hanya dibandingkan dengan harga melon di pasar. Pengunjung mendapatkan pengalaman masuk ke greenhouse, melihat tanaman dari dekat, mencicipi buah dan memilih sendiri melon yang akan dipetik.
Menurut Muid, pengalaman tersebut membantu pengelola mengenalkan melon premium kepada masyarakat.
“Warga masyarakat bisa langsung datang, bisa melihat-lihat proses penanamannya, bisa memilih-milih sendiri, bisa icip langsung di sini, kemudian bisa memetik langsung,” ujarnya.
Dengan model itu, satu greenhouse menghasilkan dua jenis aktivitas sekaligus: budidaya dan wisata.
Pemkab Sidoarjo Beri Dukungan
Wisata Petik Melon Premium Desa Sidorejo dibuka Bupati Sidoarjo Subandi pada Selasa, 6 Oktober 2026. Lokasinya berada di Greenhouse Ketahanan Pangan Desa Sidorejo yang dikelola BUMDes.
Bupati Subandi mengapresiasi pengembangan tersebut sebagai bentuk pemanfaatan lahan desa menjadi kegiatan produktif. Ia juga mendorong kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah desa dan BUMDes untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi aset desa.
“Berarti inovasi Pak Lurah ini luar biasa, terutama BUMDes. Saya mengajak dinas pertanian nanti bekerja sama dengan kepala desa, berkolaborasi, supaya pemerintah bisa menganggarkan, terutama untuk peningkatan ketahanan pangan,” ujar Subandi.
Dukungan tersebut memberi ruang bagi pengembangan greenhouse tidak hanya sebagai kegiatan pertanian, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan usaha desa.
Bupati Subandi juga mendorong desa-desa lain untuk melihat potensi lahan yang belum produktif dan mengembangkannya sesuai karakter masing-masing.
Satu Greenhouse, Tiga Nilai
Cerita Sidorejo menarik bukan semata karena melon yang ditanam di dalam greenhouse.
BUMDes Mitra Usaha mencoba memberikan nilai tambahan pada satu komoditas. Melon diproduksi untuk pasar premium, greenhouse dibuka untuk wisata, sementara pengunjung mendapatkan pengalaman langsung dari proses budidaya hingga panen.
Bagi pengelola, model tersebut membuka peluang agar kegiatan pertanian tidak hanya bergantung pada penjualan hasil panen.
Bagi pengunjung, kebun melon berubah menjadi tempat untuk melihat bagaimana buah yang biasa dibeli di pasar diproduksi dan dipanen.
Pada akhirnya, greenhouse seluas 550 meter persegi itu bukan hanya tempat menanam sekitar 1.400 tanaman melon.
Di sana, BUMDes Sidorejo sedang mencoba mengubah satu hasil pertanian menjadi produk premium, pengalaman wisata dan sumber kegiatan ekonomi desa. (*)
Komentar