SAPAJATIM
LIFESTYLE

Wisata Jatim: Rute Sehari Menjelajahi Situs Sejarah Majapahit di Trowulan Mojokerto

sapajatim · 20 Oktober 2026 14:15 WIB
Wisata Jatim: Rute Sehari Menjelajahi Situs Sejarah Majapahit di Trowulan Mojokerto
Candi Tikus salah satu peninggalan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto (Foto: Gunawan Kartapranata - Own work, https://commons.wikimedia.org)

Mojokerto - Wisata Jatim tak hanya menawarkan pantai dan pegunungan. Di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, wisatawan dapat menyusun perjalanan sehari untuk mengenal peninggalan arkeologi yang berkaitan dengan sejarah Majapahit, mulai dari Museum Trowulan, Candi Brahu, Petirtaan Tikus, hingga Gapura Bajang Ratu.

Keempat tempat tersebut menghadirkan bentuk peninggalan yang berbeda. Museum menyimpan koleksi arkeologi, Candi Brahu memperlihatkan bangunan bata merah, Petirtaan Tikus memiliki struktur yang berkaitan dengan air, sedangkan Gapura Bajang Ratu menampilkan bentuk pintu gerbang beratap.

Karena situs-situs itu berada di lokasi berbeda, perjalanan akan lebih terarah jika urutannya direncanakan sejak awal. Wisatawan juga perlu memperhitungkan waktu tempuh, jam kunjungan, dan waktu untuk membaca informasi sejarah di setiap lokasi.

Rute wisata sejarah Trowulan dalam sehari

1. Pagi hari: mengenal peninggalan Majapahit di Museum Trowulan

Museum Trowulan dapat menjadi titik awal untuk mengenal kawasan bersejarah ini sebelum melihat peninggalan arkeologi secara langsung.

Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan kehidupan dan kebudayaan masa lalu, termasuk temuan arkeologi dari masa kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Informasi di museum membantu pengunjung memahami konteks sejarah sebelum mengamati bangunan yang masih berada di lokasi aslinya.

Menurut informasi pariwisata Indonesia, Museum Trowulan juga dikenal sebagai Pusat Informasi Majapahit. Lokasinya berada di kawasan Pendopo Agung, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Sebelum berangkat, periksa informasi terbaru mengenai jam operasional, tiket masuk, dan ketentuan kunjungan. Jangan mengandalkan informasi lama karena jadwal layanan dapat berubah.

2. Lanjutkan ke Candi Brahu

Setelah dari museum, perjalanan dapat dilanjutkan ke Candi Brahu di kawasan Trowulan. Bangunan berbahan bata merah ini memiliki bentuk berbeda dari petirtaan maupun gapura yang akan dikunjungi berikutnya.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI mencatat Candi Brahu berada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Catatan lembaga tersebut juga menjelaskan bahwa usia dan asal-usul bangunan ini ditafsirkan melalui kajian arkeologi, termasuk kaitannya dengan Prasasti Alasantan.

Karena penafsiran sejarahnya bertumpu pada bukti arkeologi, wisatawan sebaiknya membedakan keterangan yang telah tercatat dengan dugaan mengenai fungsi atau masa pembangunan candi.

Saat berada di lokasi, pengunjung dapat mengamati bentuk bangunan dan membaca papan informasi yang tersedia. Ikuti batas area kunjungan serta petunjuk pengelola untuk menjaga kelestarian situs.

3. Menjelang siang: melihat Petirtaan Tikus

Perjalanan berikutnya dapat diarahkan ke Petirtaan Tikus, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Candi Tikus. Situs ini berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Berbeda dari bangunan candi yang menjulang, Petirtaan Tikus memiliki struktur utama yang berada lebih rendah daripada permukaan tanah di sekitarnya. Pengunjung perlu menuruni tangga untuk mencapai bagian lantai bangunan.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menjelaskan bahwa situs tersebut merupakan bangunan petirtaan dengan denah berbentuk persegi. Susunan bangunannya menjadikan tempat ini menarik untuk diamati dari sisi arsitektur dan tata ruang.

Bentuknya kerap dikaitkan dengan konsep Gunung Mahameru dalam tradisi Hindu-Buddha. Namun, penjelasan mengenai makna simbolis bangunan sebaiknya dipahami sebagai penafsiran arkeologis, bukan kepastian yang berdiri tanpa dasar penelitian.

Luangkan waktu untuk mengamati susunan bata dan bentuk bangunan dari area yang diperbolehkan. Hindari memanjat struktur atau menyentuh bagian situs yang dibatasi.

4. Sore hari: menutup perjalanan di Gapura Bajang Ratu

Dari Petirtaan Tikus, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Gapura Bajang Ratu. Kedua situs berada di Desa Temon dan relatif berdekatan, dengan jarak yang pernah dicatat sekitar 600 meter oleh sumber kebudayaan pemerintah.

Meski demikian, jarak tersebut bukan jaminan bahwa berjalan kaki selalu menjadi pilihan terbaik. Kondisi jalur, cuaca, akses masuk, dan kebutuhan masing-masing pengunjung tetap perlu dipertimbangkan.

Gapura Bajang Ratu memiliki bentuk pintu gerbang beratap yang berbeda dari struktur Petirtaan Tikus. Bangunan bata merah ini menjadi salah satu peninggalan yang dapat membantu pengunjung membandingkan ragam arsitektur di kawasan Trowulan.

Keterangan mengenai hubungan gapura dengan tokoh atau peristiwa tertentu dalam sejarah Majapahit perlu dibaca dengan memperhatikan sumbernya. Sejumlah penafsiran arkeologi menghubungkan nama dan fungsi bangunan dengan sejarah kerajaan, tetapi tidak semua penafsiran dapat diperlakukan sebagai fakta yang sudah pasti.

Menjelang akhir kunjungan, wisatawan dapat membaca papan informasi dan mengamati detail bangunan dari area yang diizinkan. Dengan demikian, perjalanan tidak berhenti pada kegiatan mengambil foto, tetapi juga memberi kesempatan memahami peninggalan sejarah.

Apakah empat lokasi ini cukup untuk sehari?

Empat lokasi tersebut dapat menjadi pilihan rute awal untuk wisata sejarah Trowulan dalam sehari. Namun, lama kunjungan akan bergantung pada titik keberangkatan, kondisi lalu lintas, jam operasional, waktu yang dihabiskan di museum, dan durasi pengamatan di setiap situs.

Wisatawan yang berangkat dari luar Mojokerto sebaiknya memperhitungkan perjalanan pergi-pulang. Jangan menyusun jadwal terlalu rapat, terutama jika ingin membaca informasi sejarah dan beristirahat di sela kunjungan.

Urutan museum, Candi Brahu, Petirtaan Tikus, lalu Gapura Bajang Ratu merupakan usulan rute, bukan jadwal resmi pengelola. Urutannya dapat disesuaikan dengan kondisi akses dan informasi terbaru di lapangan.

Tips sebelum berwisata ke situs Majapahit

Periksa informasi kunjungan. Pastikan jam operasional, harga tiket, aturan masuk, dan kemungkinan perubahan layanan melalui kanal resmi pengelola atau instansi terkait.

Gunakan alas kaki yang nyaman. Wisatawan perlu berpindah antar lokasi dan berjalan di area situs. Pilih alas kaki yang sesuai dengan kondisi cuaca dan permukaan jalan.

Siapkan perlindungan dari cuaca. Bawa air minum, pelindung matahari, dan payung atau jas hujan sesuai prakiraan cuaca pada hari keberangkatan.

Jaga kelestarian situs. Jangan memanjat bangunan, memindahkan benda, mencoret permukaan, atau memasuki area yang dibatasi. Ikuti petunjuk pengelola dan hormati pengunjung lain.

Sediakan waktu untuk memahami sejarah. Setiap lokasi memiliki bentuk dan konteks yang berbeda. Membaca papan informasi atau keterangan resmi akan membantu pengunjung membedakan fakta arkeologis dari cerita atau penafsiran yang belum tentu pasti.

Menjelajahi Trowulan dengan rute yang terencana

Trowulan menawarkan pengalaman wisata Jatim yang berbeda dari perjalanan ke pantai atau pegunungan. Dalam satu rangkaian kunjungan, wisatawan dapat melihat koleksi arkeologi di Museum Trowulan, mengamati bangunan bata merah Candi Brahu, mengenali struktur petirtaan di Candi Tikus, dan menutup perjalanan di Gapura Bajang Ratu.

Kunci perjalanan sehari bukan mengunjungi sebanyak mungkin tempat, melainkan memilih rute yang masuk akal dan menyediakan waktu untuk memahami setiap situs. Dengan memeriksa informasi kunjungan sebelum berangkat serta mengikuti aturan pelestarian, wisata sejarah di Trowulan dapat menjadi cara yang lebih terarah untuk mengenal warisan arkeologi Jawa Timur. (*)

Sumber rujukan: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI

Pewarta: Zulfa Fatin
Editor: sapajatim

Tags

Komentar

Belum ada komentar.

Terkait

Terpopuler - LIFESTYLE