Rasio Laki-laki dan Perempuan di Jawa Timur Berbeda Tiap Daerah, Ini Angka Surabaya hingga Madiun
Surabaya - Rasio penduduk laki-laki dan perempuan di Jawa Timur berbeda antar kabupaten/kota. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Provinsi Jawa Timur Dalam Angka 2026 mencatat rasio jenis kelamin sebesar 97,9 di Kota Surabaya, 100,8 di Kabupaten Sidoarjo, 101,0 di Kabupaten Kediri, 101,2 di Kota Batu, dan 95,9 di Kota Madiun.
Angka tersebut memperlihatkan perbedaan komposisi penduduk di lima wilayah tersebut. Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Kediri, dan Kota Batu memiliki rasio di atas 100, sedangkan Kota Surabaya dan Kota Madiun berada di bawah angka itu.
Rasio jenis kelamin merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan, yang dinyatakan sebagai jumlah laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
Dengan demikian, rasio di atas 100 menunjukkan jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada perempuan, sedangkan rasio di bawah 100 menunjukkan jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
Rasio Surabaya dan Madiun di Bawah 100
Kota Surabaya mencatat rasio jenis kelamin sebesar 97,9 pada 2025. Angka ini setara dengan sekitar 98 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan.
Kota Madiun mencatat rasio lebih rendah, yakni 95,9. Artinya, terdapat sekitar 96 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan berdasarkan indikator tersebut.
Kedua kota itu memiliki rasio di bawah angka Jawa Timur secara keseluruhan, yaitu 99,4 pada tahun yang sama. Secara agregat, angka provinsi tersebut menunjukkan jumlah penduduk perempuan sedikit lebih banyak daripada laki-laki.
Namun, rasio tingkat provinsi tidak menggambarkan secara persis komposisi penduduk di setiap kabupaten/kota. Angka masing-masing wilayah tetap perlu dibaca berdasarkan data daerah yang bersangkutan.
Sidoarjo, Kabupaten Kediri, dan Kota Batu di Atas 100
Berbeda dengan Surabaya dan Kota Madiun, Kabupaten Sidoarjo mencatat rasio jenis kelamin sebesar 100,8 pada 2025. Angka tersebut menunjukkan jumlah penduduk laki-laki sedikit lebih banyak daripada perempuan.
Kabupaten Kediri memiliki rasio 101,0, sedangkan Kota Batu mencapai 101,2. Berdasarkan indikator yang sama, kedua wilayah tersebut juga memiliki jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada perempuan.
Di antara lima daerah yang dibandingkan dalam artikel ini, Kota Batu mencatat rasio tertinggi, sementara Kota Madiun berada pada posisi terendah. Selisih keduanya mencapai 5,3 poin rasio.
Perbedaan tersebut menunjukkan variasi komposisi penduduk antardaerah. Namun, angka rasio saja tidak dapat menjelaskan penyebabnya, termasuk kemungkinan pengaruh migrasi, struktur umur, atau faktor demografis lainnya.
Cara Membaca Rasio Laki-laki dan Perempuan
Rasio jenis kelamin perlu dibaca sebagai perbandingan, bukan sebagai persentase penduduk. Rasio 101,2, misalnya, berarti terdapat sekitar 101 penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan, bukan berarti 101,2 persen dari seluruh penduduk adalah laki-laki.
Sebaliknya, rasio 97,9 menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit daripada perempuan jika dihitung dengan basis 100 penduduk perempuan.
Indikator ini menggambarkan perbandingan jumlah kedua kelompok, bukan jumlah absolut penduduk laki-laki dan perempuan di suatu wilayah.
Data BPS tersebut memperlihatkan bahwa komposisi penduduk Jawa Timur tidak seragam di setiap kabupaten/kota.
Untuk menjelaskan lebih jauh penyebab perbedaan rasio, diperlukan data pendukung yang secara khusus menguji faktor demografis terkait. (*)
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Timur Dalam Angka 2026.
Komentar