SAPAJATIM
LIFESTYLE

Dua Rekor Maulana dan Sejarah Ken Warnai 13 Medali Atlet Jatim

sapajatim · 25 Oktober 2026 14:28 WIB
Dua Rekor Maulana dan Sejarah Ken Warnai 13 Medali Atlet Jatim
Atlet asal Jawa Timur, Maulana Rifky Yavianda menorehkan dua rekor Asia di cabang para renang pada 5th Asian Para Games 2026 di Aichi–Nagoya, Jepang

Enam atlet Jawa Timur menyumbangkan dua emas, lima perak, dan enam perunggu bagi Indonesia di Asian Para Games 2026. Maulana Rifky Yavianda mencatat dua rekor Asia, sementara Ken Swagumilang meraih dua perak para panahan.

Catatan waktu 1 menit 3,07 detik mengantar Maulana Rifky Yavianda meraih emas nomor 100 meter gaya punggung putra S12 di Asian Para Games 2026. Waktu itu sekaligus menjadi rekor Asia baru. Pada perlombaan yang sama, Maulana juga mencatat rekor pada 50 meter pertama dengan waktu 30,31 detik.

Emas tersebut menjadi yang kedua bagi Maulana di Aichi–Nagoya, Jepang. Sehari sebelumnya, Senin 19 Oktober 2026, perenang asal Jawa Timur itu meraih emas nomor 100 meter gaya bebas putra S12 dengan catatan 55,34 detik.

Maulana menambah dua perak dari nomor 50 meter gaya bebas putra S13 dan 100 meter gaya kupu-kupu putra S12. Ia menuntaskan perlombaan dengan dua emas dan dua perak.

Pencapaian Maulana menjadi bagian dari kontribusi enam atlet Jawa Timur yang, hingga Sabtu 24 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, mengumpulkan 13 catatan medali individual: dua emas, lima perak, dan enam perunggu. Angka itu menghitung medali setiap atlet, termasuk anggota tim beregu, bukan jumlah nomor perlombaan yang menghasilkan medali.

Selain Maulana, Ken Swagumilang juga menorehkan pencapaian penting. Atlet para panahan itu meraih perak nomor ganda putra compound bersama Arif Firmansyah pada Rabu 21 Oktober 2026. Mereka kalah dari pasangan Thailand dengan skor 147–150.

Perak itu menjadi medali pertama Indonesia dari para panahan sepanjang keikutsertaan di Asian Para Games. Indonesia juga baru pertama kali mengirim wakil pada nomor ganda putra compound di ajang tersebut.

Sehari kemudian, Ken kembali meraih perak, kali ini bersama Teodora Audi Ayudia Ferelly di nomor beregu campuran compound. Pasangan Indonesia kalah dari wakil India, Sheetal Devi dan Toman Kumar, dengan skor 148–151.

Ketua NPCI Jawa Timur Imam Kuncoro mengapresiasi perjuangan para atlet. Imam berada di Jepang sebagai bagian dari Kontingen Indonesia sekaligus pelatih para judo.

“Prestasi ini merupakan hasil kerja panjang para atlet, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan. Kami bersyukur atlet-atlet asal Jawa Timur dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana hasil ini menjadi pijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi pada ajang internasional berikutnya,” ujar Imam.

Wakil Sekretaris NPCI Jawa Timur Roy Agustinus Soselisa menilai rekor Maulana dan medali Ken perlu menjadi bahan penguatan pembinaan olahraga prestasi di daerah.

“Prestasi tidak cukup dibangun melalui intensitas latihan semata, tetapi membutuhkan penerapan ilmu keolahragaan secara konsisten agar proses pembinaan lebih terukur, potensi atlet berkembang optimal, dan prestasi yang diraih dapat terus berkelanjutan,” kata Roy.

Dari cabang para renang, Mutiara Cantik Harsanto menyumbangkan perak nomor 100 meter gaya dada putri SB9 dan perunggu nomor estafet campuran 4 × 100 meter gaya ganti 34 poin. Zahra Nur Azizah juga menjadi bagian dari tim estafet peraih perunggu.

Nanda Mei Sholihah meraih dua perunggu para atletik, masing-masing dari nomor 200 meter dan 100 meter putri T47. Sementara itu, Khalimatus Sa’diyah menyumbangkan dua perunggu para bulu tangkis, dari nomor ganda putri SL3–SU5 bersama Leani Ratri Oktila dan tunggal putri SL4.

Tiga atlet Jawa Timur lainnya turut memperkuat Indonesia, yakni Firza Faturrahman Listianto dari para atletik, Ubaidillah Amsyar Juba dari para renang, dan Ria Yuliati dari para taekwondo. Mereka belum meraih medali. Imam mengatakan pengalaman bertanding di tingkat Asia tetap menjadi bagian dari perjalanan prestasi atlet.

“Medali memang menjadi ukuran prestasi, tetapi bukan satu-satunya ukuran pengabdian seorang atlet. Mereka yang belum naik podium tetap telah melewati proses panjang untuk memperoleh kepercayaan mengenakan seragam Indonesia dan bersaing dengan atlet terbaik Asia. Hasil perlombaan boleh berbeda, tetapi kehormatan mewakili Merah Putih tidak pernah berbeda,” ujar Imam.

Kontribusi Jawa Timur juga datang dari kursi pelatih. Imam mendampingi tim para judo Indonesia, yang meraih satu perak dan dua perunggu. Raihan itu merupakan kontribusi kepelatihan dan tidak termasuk dalam penghitungan 13 catatan medali individual atlet Jawa Timur.

Bagi NPCI Jawa Timur, hasil di Aichi–Nagoya menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pembinaan, regenerasi atlet, kualitas pelatih, kesinambungan kompetisi, serta ketersediaan sarana latihan yang aksesibel.

Roy mengatakan daerah perlu menyiapkan atlet berikutnya melalui pencarian bakat, pembinaan berjenjang, dan kompetisi berkelanjutan. “Jawa Timur tidak boleh hanya mengandalkan atlet yang sudah berprestasi, tetapi harus terus menyiapkan atlet berikutnya untuk memperkuat Indonesia,” katanya. (*)

Pewarta: Firman Dwi Ardiansyah
Editor: sapajatim

Tags

Komentar

Belum ada komentar.

Terkait

Terpopuler - LIFESTYLE