TRENGGALEK, sapajatim.com – Terbukanya akses Jalan Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan Trenggalek dengan sejumlah daerah tetangga membawa dampak ganda. Di satu sisi mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata, namun di sisi lain memunculkan ancaman serius berupa meningkatnya peredaran narkotika. Kecamatan Watulimo kini masuk radar Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Trenggalek sebagai wilayah rawan.
Kepala BNNK Trenggalek, AKBP Wiji Rahayu, mengungkapkan bahwa kemudahan akses transportasi pasca pembangunan infrastruktur, termasuk JLS, secara nyata mempermudah pergerakan jaringan pengedar narkoba.
“Pembangunan infrastruktur sangat berpengaruh. Jalan yang semakin terbuka, termasuk JLS, memudahkan peredaran narkoba masuk ke Trenggalek, terutama wilayah pesisir seperti Watulimo,” ujar AKBP Wiji Rahayu, Senin (19/1/2026).
BNNK Trenggalek mencatat lonjakan signifikan kasus penyalahgunaan narkoba sepanjang 2025. Jika pada 2024 hanya terdapat delapan warga yang menjalani asesmen, pada 2025 jumlahnya melonjak menjadi 32 orang, atau naik hingga 400 persen dalam satu tahun.
Menurut Wiji, jalur lintas kabupaten yang kini terbuka lebar dimanfaatkan jaringan pengedar sebagai jalur suplai. Mobilitas orang dan barang yang tinggi membuat pengawasan menjadi semakin kompleks.
“Watulimo memiliki karakteristik wilayah pesisir dengan aktivitas ekonomi yang tinggi. Ini membuatnya rentan dimanfaatkan sebagai pintu masuk maupun wilayah peredaran,” jelasnya.
BNNK juga mengungkap bahwa sasaran utama jaringan narkoba adalah kelompok usia produktif 20 hingga 35 tahun, terutama pekerja fisik. Nelayan, Anak Buah Kapal (ABK), petani, hingga pekerja serabutan kerap menjadi target dengan iming-iming narkoba sebagai penambah stamina kerja.
“Wilayah pesisir seperti Watulimo memang rawan. Mayoritas kasus yang kami tangani berlatar belakang pekerja kapal atau sektor informal,” ungkap Wiji.
Sebagai langkah antisipasi, BNNK Trenggalek menggandeng juragan kapal dan kelompok nelayan untuk memperkuat deteksi dini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah tes urin secara mendadak kepada pekerja kapal.
“Hasil tes urin sejauh ini masih negatif, tapi kami tetap waspada. Pencegahan harus dilakukan sejak awal agar laut tidak menjadi jalur masuk narkoba,” tegasnya.
Selain penindakan, BNNK Trenggalek juga mengedepankan pendekatan rehabilitasi. Pengguna narkoba kategori ringan hingga sedang diarahkan menjalani rehabilitasi rawat jalan, sementara kategori berat diwajibkan menjalani rehabilitasi rawat inap.
BNNK memastikan sinergi dengan Polres Trenggalek terus diperkuat. Setiap tersangka narkotika yang ditangkap aparat kepolisian akan langsung menjalani asesmen untuk menentukan langkah hukum dan rehabilitasi selanjutnya.
“Kami berharap masyarakat, khususnya di wilayah pesisir, ikut berperan aktif. Infrastruktur harus membawa kesejahteraan, bukan justru membuka ruang bagi kejahatan narkotika,” pungkas Wiji. (Redaksi)










