TRENGGALEK, sapajatim.com – Pantai Mutiara tetap menjadi salah satu destinasi wisata terfavorit selama libur Natal dan Tahun Baru 2025. Ribuan pengunjung tercatat memadati kawasan pantai tersebut setiap harinya. Namun, tingginya angka kunjungan itu tidak berbanding lurus dengan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Trenggalek.
Kabid Pemasaran Pariwisata Disparbud Trenggalek, Bambang Supriyadi, menjelaskan bahwa minimnya kontribusi PAD dari Pantai Mutiara disebabkan oleh pola pengelolaan yang berbeda dengan destinasi wisata lain milik pemerintah daerah.
“Pantai Mutiara tidak dikelola langsung oleh Disparbud, melainkan oleh kelompok masyarakat setempat secara swadaya. Penarikan retribusi hanya melalui tiket masuk, sehingga hasilnya masuk ke pengelola,” ujar Bambang, Rabu (7/1/2026).
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat lonjakan pengunjung tidak otomatis meningkatkan PAD. Berbeda dengan objek wisata yang berada di bawah pengelolaan langsung Disparbud.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019, sejumlah destinasi wisata alam yang dikelola langsung pemerintah daerah antara lain Goa Lowo, Pantai Karanggongso, Pantai Prigi, Pantai Damas, Pantai Cengkrong (hutan mangrove), Pantai Pelang, Pantai Konang, Pantai Blado, dan Pantai Kili-Kili.
“Di objek yang kami kelola langsung, selain tiket masuk ada retribusi lain, seperti pemanfaatan fasilitas dan penggunaan lahan untuk kegiatan komersial. Itu yang menjadi sumber PAD,” jelasnya.
Meski kontribusinya terhadap PAD relatif kecil, Bambang menegaskan bahwa Pantai Mutiara tetap memiliki peran penting dalam sektor pariwisata daerah. Keberadaan pantai tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, mulai dari pelaku UMKM hingga jasa wisata lokal.
Data Disparbud mencatat, jumlah kunjungan Pantai Mutiara pada 2024 mencapai 445.743 orang. Sementara pada 2025 mengalami penurunan menjadi 360.084 pengunjung. Kendati demikian, Pantai Mutiara tetap masuk dalam jajaran destinasi favorit wisatawan, baik lokal maupun luar daerah.
“Secara PAD memang tidak signifikan, tetapi dampak ekonominya tetap terasa di masyarakat. Itu yang juga menjadi nilai penting Pantai Mutiara,” pungkas Bambang. (Redaksi)












