Breaking News

Kasus Gagal Ginjal Meningkat, RSUD dr Soedomo Trenggalek Layani Hingga 100 Pasien Cuci Darah per Minggu

Trenggalek, sapajatim.com— Jumlah pasien cuci darah atau hemodialisis di RSUD dr Soedomo Trenggalek terus menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Meski kenaikannya belum tergolong signifikan, peningkatan kasus gagal ginjal membuat rumah sakit daerah tersebut harus mengoptimalkan layanan dengan keterbatasan alat yang ada.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek, Saeroni, menyampaikan bahwa saat ini RSUD dr Soedomo mengoperasikan total 14 mesin hemodialisis. Dari jumlah tersebut, 12 mesin digunakan untuk pasien reguler, satu mesin untuk layanan sito atau tindakan segera, dan satu mesin khusus untuk pasien dengan penyakit menular.

“Untuk pasien reguler, satu mesin digunakan dua kali dalam seminggu. Jumlah pasien reguler berkisar antara 70 sampai 100 orang,” kata Saeroni.

Selain layanan reguler, rumah sakit juga melayani pasien sito atau pasien yang harus segera menjalani cuci darah. Dalam sehari, pasien sito bisa mencapai 25 hingga 48 orang. Pasien dalam kategori ini tetap harus menjalani hemodialisis harian sesuai indikasi medis.

Menurut Saeroni, setelah menjalani hemodialisis, kondisi pasien akan dievaluasi. Jika belum sembuh dan masih membutuhkan terapi lanjutan, pasien akan masuk ke layanan reguler. Namun, keterbatasan kapasitas membuat penambahan pasien reguler tidak bisa dilakukan secara langsung.

“Reguler tidak bisa ditambah. Kalau ada pasien baru, harus antre atau menunggu ada pasien yang keluar dari program reguler,” jelasnya.

Peningkatan jumlah pasien ini mendorong RSUD dr Soedomo merencanakan penambahan mesin hemodialisis pada 2026. Sebanyak 19 mesin baru direncanakan akan dioperasikan, sehingga total mesin cuci darah menjadi 33 unit.

“Penambahan alat ini seiring dengan meningkatnya kasus gagal ginjal dari tahun 2023 hingga 2025,” ujar Saeroni.

Ia menambahkan, sebagian besar pasien gagal ginjal memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes melitus. Selain itu, pasien didominasi usia produktif, yakni antara 30 hingga 60 tahun. Pasien lanjut usia justru tidak terlalu mendominasi.

“Bahkan pasien termuda yang pernah kami tangani berusia 15 tahun, setara kelas 1 SMP. Ini menjadi perhatian karena pola makan, termasuk konsumsi makanan cepat saji,” ungkapnya.

Sebagai upaya pencegahan, RSUD dr Soedomo mengimbau masyarakat untuk menerapkan terapi gaya hidup sehat. Di antaranya dengan tidak merokok, menghindari alkohol, rutin bergerak, mengonsumsi makanan bergizi, serta mampu mengelola stres dengan baik.

Dengan rencana penambahan mesin pada 2026, RSUD dr Soedomo berharap pelayanan hemodialisis dapat menjangkau lebih banyak pasien dan mengurangi antrian, sekaligus menjadi respons terhadap meningkatnya kasus gagal ginjal di Trenggalek. (Redaksi)

Writer: YohanEditor: Widodo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *