TRENGGALEK, sapajatim.com – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali muncul di Kabupaten Trenggalek pada awal tahun 2026. Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispetrik) Trenggalek mencatat, sebanyak 22 ekor sapi potong terserang PMK yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dispetrik Trenggalek, drh Ririn Hari Setiani, mengatakan kasus PMK sebenarnya sudah mulai terdeteksi sejak akhir tahun 2025. Kasus pertama muncul pada Desember 2025 di Desa Siki, Kecamatan Dongko.
“Bulan Desember sudah mulai ada beberapa kasus. Di Desa Siki tercatat tujuh ekor sapi milik lima peternak yang terserang PMK,” kata Ririn, Rabu (21/1/2026).
Dari tujuh ekor sapi tersebut, satu ekor di antaranya merupakan sapi anakan atau pedhet yang tidak tertolong dan mati akibat PMK. Memasuki Januari 2026, kasus PMK kembali bertambah dan seluruhnya menyerang sapi potong.
“Untuk Januari, satu kasus kembali muncul di Desa Siki dan sudah sembuh. Kemudian di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, ada 11 ekor sapi yang masih dalam proses penyembuhan. Sementara di Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, terdapat 10 ekor sapi yang juga masih proses penyembuhan,” jelasnya.
Disnakkan Trenggalek menilai penularan PMK erat kaitannya dengan mobilitas dan aktivitas jual beli ternak antarwilayah. Menurut Ririn, kambing kerap menjadi media penularan karena gejala PMK pada kambing relatif lebih ringan sehingga tidak langsung terdeteksi.
“Setelah dibeli, ternak ditempatkan dalam satu kandang atau berdekatan dengan ternak lain termasuk sapi, kemudian menular,” terangnya.
Sebagai langkah antisipasi, Disnakkan kembali melakukan vaksinasi PMK dengan memanfaatkan sisa stok vaksin tahun anggaran 2025 yang masih tersedia untuk sekitar 600 ekor sapi. Vaksinasi ulang dinilai perlu karena vaksinasi terakhir di Trenggalek dilakukan pada Juli 2025.
“Sebenarnya vaksinasi sebelumnya sudah cukup merata, tetapi aktivitas jual beli ternak terus berlangsung. Jadi memang sudah waktunya vaksinasi ulang,” tegas Ririn.
Selain vaksinasi, petugas juga melakukan penyemprotan desinfektan serta pemberian vitamin oral pada sapi yang masih bergejala guna mempercepat proses penyembuhan. Disnakkan juga mengimbau pedagang dan peternak agar lebih berhati-hati dalam transaksi ternak.
“Saran kami, beli ternak yang sehat lalu dikarantina dulu selama dua minggu. Jika tidak muncul gejala baru boleh dicampur dengan ternak lain. Jika muncul gejala, segera laporkan,” pungkasnya.(Redaksi)










