TRENGGALEK, sapajatim.com— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek kini berkembang melampaui tujuan awal pemenuhan gizi pelajar. Program nasional tersebut menjelma menjadi penggerak ekonomi kerakyatan dengan membuka ribuan lapangan kerja baru sekaligus menghidupkan usaha dan produksi pangan lokal.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Saeroni, mengatakan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi baru di tingkat lokal. Satu unit SPPG rata-rata menyerap 45 hingga 50 tenaga kerja.
“Satu SPPG rata-rata mempekerjakan 45 sampai 50 orang. Mereka terdiri dari tenaga gizi, tenaga angkutan, kepala satuan, hingga relawan dapur,” kata Saeroni.
Dengan target operasional 50 SPPG di seluruh wilayah Trenggalek, program MBG diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2.000 hingga 2.500 tenaga kerja secara langsung. Penyerapan tenaga kerja ini dinilai memberikan kontribusi nyata dalam menekan angka pengangguran, terutama di tingkat desa dan kecamatan.
Pemerintah daerah juga mengarahkan agar perekrutan tenaga kerja memprioritaskan warga sekitar lokasi SPPG. Setiap dapur MBG ditargetkan merekrut minimal 35 relawan dari lingkungan terdekat.
“Tujuannya agar manfaat ekonomi MBG benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar dapur produksi,” ujar Saeroni.
Selain membuka lapangan kerja, program MBG juga mendorong serapan produk pangan lokal. Dapur MBG rutin menyerap beras, sayuran, lauk-pauk, hingga buah-buahan dari petani dan peternak setempat.
“Kami mengupayakan bahan baku berasal dari sekitar SPPG, atau setidaknya dari wilayah Trenggalek. Dengan skema ini, petani lokal mendapatkan pasar tetap dan ekonomi desa terus bergerak,” jelasnya.
Pola tersebut membentuk rantai ekonomi berkelanjutan, mulai dari petani dan peternak sebagai penyedia bahan pangan, pedagang lokal sebagai distributor, hingga masyarakat sekitar yang mengolah dan menyalurkan makanan bergizi kepada para siswa penerima manfaat.
Dari sisi perputaran uang, program MBG dinilai memiliki daya ungkit ekonomi yang besar. Dengan asumsi satu porsi makan senilai Rp10 ribu dan jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 125 ribu siswa, perputaran uang yang terjadi setiap hari mencapai miliaran rupiah.
“Perputaran ekonominya sangat signifikan. Kami tidak ingin MBG hanya menjadi program konsumtif, tetapi mampu mendorong ekonomi desa dan membuka lapangan kerja yang berkelanjutan,” tegas Saeroni.
Melalui penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dan pemanfaatan bahan pangan lokal, Program Makan Bergizi Gratis di Trenggalek tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi generasi muda, tetapi juga menguatkan denyut ekonomi daerah secara nyata. (Redaksi)












